Kamis, 15 November 2012

KESEDIHAN


KESEDIHAN


Aku bukannya manusia sempurna untuk selalu dipuja
Setiap saat aku melakukan hal yang mudah saja
Bukan untuk menyombongkan diri tetapi untuk mengisi hidup
Benturan jiwa terus terjadi dan aku hanya bisa diam saja

Saat aku tahu semuanya sudah menjadi runyam dan pahit
Aku memilih diam dan menyendiri bagai si pengecut
Mereka mencibir, mereka mencemooh, dan mereka menjauhi
Tinggallah diri ini tanpa kebanggaan selain meratapi...

Wapo Mantos Tempat Transaksi Pelacuran di Manado


SAAT ini saya duduk santai di pusat perbelanjaan yang top di Kota Manado. Duduk ditempat yang bisa menghisap rokok, dan ditemani akses internet yang cukup menghibur aku dengan menjelajahi dunia maya.

Tempat itu disebut Warung Pojok (Wapo) di kawasan Manado Town Square (Mantos). Saya duduk pun memilih dipojok agar bisa mengawasi keadaan sekitar. Bukan barang baru sih..Wapo saat ini bukan hanya sebagai tempat nongkrong atau pun makan ala menu campuran baik menu tradisional Indonesia maupun menu makanan impor dari negara tirai bambu China.

Tetapi yang membelalakan mata ini, Wapo menjadi tempat teraman dan terasyik untuk transaksi bisnis esek-esek ala Kota Tinutuan sebutan lainnya bagi Kota Manado.

Baru dua puluh menit duduk, saat itu Sabtu atau malam Minggu (10/12/12) sekitar pukul  18.00 Wita, mata saya tertuju pada sosok seorang lelaki berbadan tambun dan berkulit sawo matang dan tidak begitu tinggi. Yah..mudah dikenal sosok itu..dia adalah orang terpandang di Kepulauan Kabupaten Talaud yang bertitel wakil rakyat. 

Dia adalah Engelbertus Tatibi, Ketua DPRD Talaud dan Ketua DPD Partai Golkar. Tatabi saat ini sedang bersama seorang wartawan dan dua pria lainnya yang berasal dari Nusa Utara. Terlihat Tatibi Cs begitu serius bercerita. Dengan agak usil, saya menanyakan kepada salah seorang pelayan di Wapo. Dengan ceplas-ceplosnya, karyawan perempuan itu mangatakan, Tatibi yang disebutnya bapak itu sering meminta nomor gadis-gadis nan seksi yang sering mangkal di Wapo. Tak hanya itu, diungkapkan karyawan ini, bahwa Tatibi selain langganan tetap datang ke Wapo, juga langganan tetap mencicipi menu ekstrim ala Wapo yang memang diperuntukan untuk lelaki hidung belang.

Dengan polosnya, perempuan itu lantas menawarkan gadis pemuas birahi jika saya berkenan. "Suka, saya punya yang belasan tahun, kalau mau saya bisa kasih nomor handphonenya (hp, red)," ujarnya. Tampak penasaran, saya pun meminta nomor Hp itu, dan mencoba menelpon pada nomor yang diberikan. Alangkah kagetnya saya, ternyata gadis itu duduk tak jauh dengan dua teman lainnya yang begitu mempesona dan membelalakan mata ini. Umurnya pun baru 19 tahun, bernama Sisilia. Saya, langsung menawar, dan tampak malu-malu gadis belia itu langsung menyebutkan harga Rp 750 Ribu. "Nanti saya datang langsung ke hotel, sebutkan saja nama hotel dan kamarnya," kata gadis itu, yang sebelumnya saya sempat melambaikan tangan, tanda si penelpon yang ingin bertransaksi.

Janji kemudian diucap untuk si gadis binal. Rasa penasaran masih berkecamuk di pikiran ini, dan ingin mencoba kebenaran dari telpon singkat tadi.
Tak lama menunggu saya, langsung bergegas meninggalkan Wapo dan pemandangan Ketua DPRD Talaud yang disebut sering gunakan jasa yang sama untuk membuktikan kebenaran itu.

Sampailah saya di kawasan hotel bilangan Malalayang, tepatnya di depan Boulevard Mall yang bermasalah itu. Saya langsung masuk ke hotel Dragon, dan memilih kamar di lantai dua. Jari tangan saya langsung mengambil HP di saku, dan SMS ke gadis tadi. Balasan SMS pun didapat, katanya segera menuju ke kamar hotel yang saya maksud.

Ketukan pintu tampak terdengar, ketika saya lagi menyetel siaran televisi di kamar seharga 200-an itu. "Hai, silahkan masuk," kata saya kepadanya. Dengan tak malu-malu, gadis itu langsung meminta uang sebelum bercinta. "Mana uangnya, dan pakai kondom yah," ujarnya.

"Ok,  ini uangnya. Tetapi saya tidak mau main hari ini, cuma mau nanya-nanya saja," timpal saya, yang disambut dengan raut muka keheranan dari sang gadis.  "Apaan ? Tapi bukan polisi kan ? atau ngana wartawan ?," tanya gadis ini.

"Bukan, saya hanya penulis saja, saya ada penelitian untuk rampungkan tugas akhir skripsi," kata saya, yang ditanggapi kurang senang gadis itu. "Ah, beking malo jo. Mau main ato nyanda. Kalo nyanda, qta so mo pigi ini," ancamnya. 

"Nyanda kita rahasiakan nama kamu. Betul deh," balas saya lagi.

Setelah meyakinkan, ternyata gadis ini mau untuk saya tanya-tanya mengenai berbagai hal, terutama motivasinya terjun kekehidupan anti sosial yang mengucilkan dari masyarakat tersebut. Diungkapkan si gadis, karena keterpaksaan, sebab, sejak umur 16 tahun dirinya sudah kehilangan keperawanan oleh pacarnya. Sehingga, pernah melakukan aborsi.

Saya pun menanyakan kalau pernah ditiduri oleh pejabat atau anggota DPRD. Gadis yang memang tak tamat SMA ini, mengaku bahwa anggota dewan dan pengusaha paling banyak jadi daftar antrian untuk mencicipi, dan tamu-tamu dari luar daerah.

"Sekarang qta bisa pake HP yang mahal dan ada doi banya," ujarnya. Tak beberapa lama kemudian, gadis ini pun bergegas pamit. Saya pun langsung menyimpulkan betapa mudahnya mencari pelampiasan nafsu di Kota Manado,  terutama bagi lelaki hidung belang yang ingin merasakan tubuh anak baru gede (ABG). Hemmmmmm...Pantaslah HIV AIDS begitu cepat bertambah..."Ah asal pakai Kondom saja Om," ungkap Gadis sebelum berlalu dari hadapan saya. (***)  



    

Rabu, 07 November 2012

Selamat Datang di Mata Manado

Selamat Datang di Mata Manado

Blog ini hanya sekedar pembuka cakrawala berpikir masyarakat tertindas. Dibuat untuk memuat semua hal yang dianggap menarik oleh penulis yang merupakan seseorang yang begitu peka dengan masalah-masalah sosial yang kerap terjadi di masyarakat, tetapi cendrung sungkan atau takut untuk dikritisi dan malah disembunyikan walau sudah bukan menjadi rahasia umum.

Sekedar selayang pandang, blog ini bukan untuk menyerang berbagai pihak, tetapi merupakan ironi yang terjadi berdasarkan penglihatan, investigasi dan pengalaman pribadi dari saya penulis bernama INDRA dan Marga KEENAM (Indra Keenam).

Saya merupakan warga kelas Teri di Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), hobby dengan dunia tulis menulis,  menyorot ketimpangan, tetapi tidak mau dikrtik balik, dan  anti demokrasi di Indonesia. Karena demokrasi sesungguhnya di Indonesia itu tidak ada. Kata Demokrasi hanya bagian dari pemanis untuk membodohi masyarakat. Demokrasi Ironi...! Yang berkuasa makin berkuasa..Kaya makin kaya..miskin tertindas dan terus dibodohi.

Sehingga mari kita menjadi blogger...yang tidak pernah merasa puas..terus berkarya untuk menyoroti kehidupan bermasyarakat yang kental dengan pemiskinan sistematis oleh yang disebut PEMERINTAH. Selamat menikmati sajian tulisan demi tulisan pada blog Mata Manado..."Melihat sesuatu yang tidak terlihat...Menangkap sesuatu yang tersembunyi". Hanya dengan Mata Manado dari Indra Keenam...(***)