Jumat, 12 Desember 2014

Live TVRi Sulut, Korupsi oh Korupsi



PADA tanggal 10 Desember 2014 saya tampil Live di stasiun televisi TVRI selama 1 jam bersama narasumber lainnya, Taufik Tumbelaka, pengamat sosial di Sulut. Dipandu seorang Host cantik, dialog dengan tema anti korupsi itu berjalan cukup baik.

Jempol buat TVRI yang mulai keluar dari frame melekat selama ini sebagai televisi milik pemerintah yang dahulunya merupakan televisi yang digunakan oleh rezim sebagai alat propaganda belaka.

Kembali pada dialog khusus yang merupakan bagian dari peringatan hari anti korupsi pada setiap 9 Desember itu, membahas mengenai berbagai lingkup korupsi terutama penanganan kasus-kasus korupsi yang terjadi di Nyiur Melambai, sebutan lain bagi wilayah Sulawesi Utara (Sulut) yang memang sejauh mata memandang sejak dahulu wilayahnya banyak di tumbuhi pohon kelapa.

Taufik Tumbelaka, narasumber yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Sulut merupakan teman lama. Sedianya kami berdua akrab saat saya waktu itu aktif sebagai jurnalis disalah satu koran harian di Kota Manado yang menggawangi rubrik mengenai Permesta di Sulut. Maklumlah, Taufik sering memberikan data-data segar terhadap pergolakan di zaman tersebut, dan membangun komunikasi dengan pelaku sejarah Permesta, salah satunya almarhum Kolonel Wem Tenges saat masih sehat-sehat pada waktu itu di tahun 2009 silam.

Sebelum jauh tersesat terhadap cerita kedekatan saya dengan bung Taufik, sebaiknya kita kembali ke dialog anti korupsi tersebut. Saat on air, host pun mengawali pertanyaan mengenai korupsi di Sulut terhadap saya. Menurut saya yang saat ini aktif dibeberapa Ormas dan LSM anti korupsi menyatakan tindak korupsi di daerah khususnya Sulut masih cukup banyak dan aparat penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, dan hakim Tipikor harus lebih serius dalam penegakan hukum. Jangan pedang hukum itu hanya tajam kebawah saja, tetapi tumpul keatas.

Dalam kaca mata hukum saya, sorotan dan keganjilan dalam kasus korupsi Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintahan Daerah (TPAPD) di Kabupaten Bolmong tahun 2010-2011 dengan bandrol Rp. 4,8 Miliar. Dalam kasus itu mantan Sekda Pemkab Bolmong, Ferry Sugeha hanya dihukum hakim Pengadilan Tipikor Manado dengan hukuman penjara 1 tahun. Hal miris lainnya mantan Bupati Bolmong, Marlina Moha Siahaan (MMS) yang sudah ditetapkan tersangka pada 1 Desember 2013, tetapi belum juga proses penyidikannya P21 ataupun Tahap 2. Padahal penetapan tersangka itu sudah setahun lalu, dan belum juga dilimpahkan ke kejaksaan. Eh... MMS malah melenggang mulus menjadi wakil rakyat di DPRD Provinsi Sulut dapil Bolmong Raya.

Korupsi pembangunan Youth Center di Kota Manado dengan anggaran Rp. 9,6 Miliar baru menyeret tiga tersangka yakni, PM alias Paskalis, RE alias  Onie dan JU alias Jul. Kemudian menyusul tersangka lainnya yaitu FS, GS, CS, MW, SH dan DP. Menurut AKBP Wilson Damanik, Kabid Humas Polda Sulut, dari keenam tersangka itu satu sudah meninggal dunia, yaitu FS. Dalam penuntasan korupsi Youth Center ini cukup menarik. Sebab dua tersangka PM alias Paskalis dan RE alias Onie terus "bernyanyi" mengenai keterlibatan Walikota Manado, GS Vicky Lumentut. Tuduhan demi tuduhan pun terlontar dari keduanya. Pascalis menyebut Lumentut aktor utama juga harus diseret sebagai tersangka dugaan korupsi anggaran dari Kemenpora RI tersebut, terutama dalam penunjukan personil Komite lewat SK walikota bernomor 70 tahun 2010 atas nama Pascalis Mitakda dan SK nomor 15 tahun 2012 atas nama Ronny Eman. Belum ditambah dengan dugaan gratifikasi pemberian jam tangan Rolex harga ratusan juta dari kontraktor Youth Center, almarhum Franky Sondakh alias FS yang telah ditetapkan tersangka tapi kemudian meninggal secara misterius di Balikpapan, Kaltim.

Korupsi lainnya yang masih mengganjal penegakan hukum, yakni korupsi pembangunan Stadion Kwangkoan dengan anggaran Rp. 5 Miliar, dana sertifikasi guru Manado miliaran rupiah, korupsi PD Pasar Rp.2,5 Miliar, korupsi terminal kayu Kota Bitung berbandrol Rp. 17 Miliar, korupsi anggaran makan dan minum (mami) Pemprov Sulut Rp.9,8 Miliar, dugaan korupsi Solar Cell atau penerangan jalan tenaga surya Rp.33 Miliar dan korupsi lain-lainnya.

Dari melihat korupsi yang ditangani baik pihak kepolisian dan kejaksaan di Sulut, keseriusan dari dua lembaga penegak hukum ini sangat diperlukan dalam penegakan hukum tak pandang bulu. Sehingga "tamparan" dari Komisi III DPR RI, saat kunjungan kerja di Manado awal bulan Desember 2014 ini, yang menyebut bahwa oknum-oknum di kejaksaan maupun kepolisian sering terlibat dalam permainan kasus maupun pemerasan terhadap pengusaha dan kontraktor bisa benar-benar dijawab dengan profesionalisme kerja dengan progress penuntasan berbagai kasus korupsi di Sulut, terutama menyeret aktor utama gurita korupsi yang terjadi selama ini.

Saya saat ini pesimis dengan kinerja kejaksaan dan kepolisian kita. Padahal saat ini adalah waktu dimana dua korps penegak hukum itu bisa membuktikan bahwa mereka bisa diandalkan sebagai penegak hukum yang bebas dari manipulasi, rekayasa dan permainan lainnya yang sudah menjadi rahasia umum sering dimainkan oknum-oknum kedua lembaga tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi atau bekennya disingkat KPK adalah kunci dari pemberantasan korupsi di Indonesia, dimana kejaksaan dan kepolisian bisa intropeksi atau berkaca diri untuk dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia dan khususnya masyarakat Sulut.

Borok penegakan hukum dalam kasus korupsi begitu tercium amisnya uang pelicin, uang pasal, dan uang perekayasaan lainnya dalam berbagai wujud penanganan kasus-kasus korupsi itu. Kalau pun bisa menyeret aktor utama yang mengendalikan secara sistematis perbuatan korupsi, toh hukumannya tidak mempunyai efek jera alias super ringan. Padahal korupsi merupakan kejahatan luar biasa, sama halnya dengan kejahatan HAM dan terorisme.

Permasalahannya saat ini adalah keseriusan dari penegak hukum untuk benar-benar menjadikan hukum sebagai panglima di negeri kita. Dalam dialog tersebut, banyak pertanyaan dilontarkan oleh warga Sulut dari via telpon ke TVRI Sulut mempertanyakan mengenai penanganan korupsi maupun hukuman yang setimpal bagi para pelaku penjarahan uang negara yang berdampak luas bagi pemiskinan sistematis yang dimainkan penguasa dan kroni-kroninya bahkan sampai perekayasaan tender proyek walau sistem tendernya secara terbuka lewat sistem online.

Dari berbagai pertanyaan tersebut, Saya menjawab tidak ada hal ain untuk mengatasi korupsi di Sulut dan umumnya Indonesia, yakni hanya menerapkan hukuman setimpal yang mempunyai efek jera. Hukuman bagi koruptor bukan sekedar hukuman biasa tapi hukuman yang benar-benar bisa membuat jera, salah satunya hukuman mati. Walaupun di negara kita belum ada yang di hukum mati karena terbukti korupsi, tapi dengan hukuman mati akan membuat orang lain berpikir 1000 kali untuk melakukan korupsi.

Persoalan korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa ini yang begitu ironi di negara kita, dan terkhusus di Sulut masih diganjar dengan hukuman yang begitu ringan. Padahal di negara tetangga Singapura, walau negara kecil tetapi hukum membuat mereka menjadi negara makmur. Singapura termasuk negara maju dengan masyarakatnya yang sejahtera. Selain itu, Singapura termasuk negara dengan tingkat korupsi paling rendah. Tak lain karena hukuman terhadap koruptor adalah kematian.

Pada kurun waktu 1994-1999 hukuman mati sudah dilakukan kepada lebih dari seribu orang. Tak hanya korupsi yang dihukum mati, para pembunuh, penyelundupan obat terlarang, dan kejahatan tingkat atas lainnya juga bisa terancan hukuman mati. Demikian dengan negara Korea Utara, China, Vietnam dan Taiwan. Untuk China, negara ini sudah paling banyak menghukum mati koruptor, walau kerugian negara hanya ratusan juta sekalipun. Bagaimana Indonesia, bagaimana Sulut ? (Deandra)





Dimanakah Aku ?



DUDUK tak tahu harus berbuat apa. Terasa pahit mulut ini setiap mengecap air ludah aku. Seakan waktu tak pernah berpihak kepadaku.
Aku terasa terasing dalam dunia nyata... aku bingung mengenai apa ?

Dimanakah keberadaan aku saat ini ? Semua seperti mimpi, padahal aku tak tidur. Semua seperti hayalan, padahal aku tetap berpikir. Atau semua ini hanya fantasi kosong belaka saja dengan memori otak aku yang sudah mulai usang dan eror...

Tak mengerti dengan waktu yang sombong... tak paham dengan pengertian yang kosong. Barangkali ini yang dinamakan penyesatan hidup dalam bingkai manipulasi kenyataan hidup sendiri. Entahlah... aku bingung... Ada dimanakah sebenarnya aku ?..........

Kekerasan Bukan Pilihanku, Jangan Kobarkan Api



HARI ini tanggal 12 Desember 2014, aku kembali menjadi orang bar-bar. Potensi kekerasan dengan emosional meledak-ledak tak terkontrol kembali aku lakukan. Memang itu salah, tidak ada alasan pembenar dalam kemarahan aku. Banyak hal yang aku rugikan, tetapi sudah demikian adanya. Mungkin cuma satu, masa lalu adalah perjalan waktu yang sudah lewat.

Saat ini, waktu terkini aku berada di tempat dimana aku bisa mencari kedamaian diri. Ketenangan diri untuk dihargai secara perasaan mungkin barang langka untuk aku. Semua ada masa lalu, dan saat ini aku ingin keluar dari semua kesesakan hati dan perasaan. Aku ingin melepas semua keegoisan dengan berlahan, termaksud di dalamnya kekerasan itu.

Siapa sih yang mau dengan tekanan hidup, masalah super komplit yang membawa hidup aku hanya berputar-putar pada lintasan hidup yang sama. Aku kebingungan, terasa aneh semua bagai hal yang menekan jiwa dan raga ini. Aku lelah dan sangat lelah, cuma meminta agar aku bisa mendapatkan ketenangan jiwa. Aku dilahirkan dengan jiwa pemberontakan, ketika hal yang tidak prinsip mengusik terhadap sisi nurani, aku bisa berbuat berbagai hak di luar jangkauan nilai-nilai kebaikan itu.

Kelelahan sangat menekan aku, entah dimana kedamaian itu. Pengalaman menyaksikan tindakan bodoh sering diambil oleh orang-orang baik membunuh, menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri, sering menjadi cibiran aku. Tetapi aku sadar semua itu bisa terjadi ketika kita tak bisa mengontrol emosi kita terhadap hal mengusik nurani. Aku masih punya hati, aku sering melakukan kekerasan karena di luar jangkauan diri. Aku membutuhkan sosok seperti ibu aku yang bisa menjadi penyejuk... ketika aku menjadi api, tentu ada air yang bisa memadamkan kobaran api itu. Bukan sebaliknya, malah sang air menjadi seperti api yang ikut menjadi panas... aku tertekan.... aku butuhkan sosok yang bisa mengerti...sosok yang bisa berdiskusi, bukan menjadi sosok yang selalu membawa cerita-cerita masa lalu, dan menekan sisi nurani manusiaku yang bisa menjadi binatang yang tak bernurani.... maaf..

Minggu, 07 Desember 2014

Bersama Pelacur Manado


KOTA Manado merupakan salah satu kota religius. Begitu sepintas kalau orang baru atau tamu dari luar Manado datang ke kota yang di kenal dengan 4B itu, yakni Bubur, Bunaken, Boulevard dan Bibir. Tapi membahas 4 B tersebut tentu paling asyik pada kata terakhir Bibir. Namun saat ini kita kembali lagi pada kata kota religius. Kenapa religius ? Karena hampir disetiap jalan yang ada sejauh mata memandang selalu ada tempat-tempat ibadah.

Sejak beberapa tahun ini, Kota Manado menjadi kota yang cukup sibuk dengan berbagai iven nasional maupun internasional. Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan hotel begitu maraknya. Tapi siapa sangka kota religius itu kini berubah menjadi "kota bergairah".

Tak heran membahas 4B pada kata terakhir yakni bibir, begitu bergairah pula. Bibir disini identik dengan perempuan Manado yang doyan makan, doyan bercakap-cakap dan doyan pada kehidupan malam atau bisnis esek-esek. Bicara cewek Manado, tentu identik dengan kehidupan seks bebas kota ini. Cewek Manado yang putih mulus dan berwajah cantik-cantik menjadi komoditas seks yang begitu menggiurkan bagi para lelaki penikmat cinta sesaat.

Bercerita seputar kehidupan malam di Manado, tentu tak lepas dari bisnis esek-esek tersebut. Bisnis pelacuran di Manado berjalan bersama dengan perkembangan kota ini. Ada ratusan tempat pijat yang beroperasi dengan bisnis esek-esek di dalamnya. Ada pula diskotik dari kelas atas sampai kelas kambing remang-remang lainnya, tersebar di sudut kota Manado.

Teringat dikala saya membawa seorang reporter koran ternama di Manado 0 untuk investigasi bisnis pelacuran Manado. Saat itu kami mengarah kebilangan Malalayang ke salah satu tempat yang disebut Kowloon. Untuk ke lokasi pelacuran, kita harus melewati rumah ibadah, yakni tak jauh dari Gereja yang jaraknya memang begitu dekatnya.

Kami waktu itu menggunakan mobil berkaca gelap. Setelah di lokasi kami parkir di sudut bersamaan dengan kendaraan lainnya yang ada di tempat pelacuran tersebut. Awalnya kita disambut sang germo bernama Audy yang biasa disapa "papi" ini. Dengan alasan mencari seorang teman di diskotik Kowloon, Audy tak menaruh curiga kepada kami. Maklumlah, bisnis esek-esek di tempat ini transaksinya hanya ditempat parkir halaman salah satu hotel disana yang juga ada diskotiknya.

Mudah ditebak, beberapa saat kemudian ada kendaraan lainnya yang masuk dan disambut hal yang sama oleh Audy. Dengan isyarat tertentu, lantas bermunculan gadis-gadis nan seksi dari balik mobil lainnya di tempat itu. Yah, gadis-gadis yang berumur variasi antara 19 sampai 25 tahun itu memang menunggu tamu malamnya di mobil mereka masing-masing.

Setelah deal harga yang ditawarkan yakni dari Rp750 ribu sampai Rp 1 juta, gadis pilihan sudah bisa dibawa untuk dicumbui, baik di hotel setempat dengan harga Rp 130 ribu, maupun di bawa ke hotel di luar tempat tersebut.

Wanita-wanita yang cantik-cantik dan putih mulus tersebut dengan latar belakang berbeda. Mereka dari yang masih sekolah SMA sampai mahasiswa, ada di tempat itu. Mahasiswa atau anak sekolahan biasanya sudah menjadi piaraan bos-bos dari luar kota. Saat melacur, biasanya majikan mereka lagi di luar kota. Sisa lainnya memang mereka yang berprofesi sebagai pelacur tetap di tempat tersebut. Bagaimana pingin mencoba ? Ah.. harus selektif dan berhati-hati, sebab kasus HIV-AIDS di Manado sudah begitu banyak. Hal inipun seperti fenomena gunung es, yang terlihat hanya ujungnya saja, tetapi dibalik itu ada penderita lainnya yang terus menyebarkan penyakit tersebut. Jika dahaga sudah tak tertahankan, dan pingin mencoba bibir Manado, tak ada salahnya memakai permen karet.





Rabu, 03 Desember 2014

Dalam Gelap, Aku Melawan Waktu


ENTAH apa yang ada di depan sana. Waktu terus berlalu menggilas semuanya. Seakan tak berdaya, tapi ritme hidup itu aku harus lalui. Begitu menghimpit sanubari aku.... Susah untuk melewati detik dan menit. Padahal jam kehidupan terus menuntut aku untuk tidak leluasa.

Saat ini sudah dua bulan aku terkurung dalam kost gelap aku. Memang gelap kalau tidak nyalakan lampu disepanjang hari. Lebih gila lagi kalau listrik padam alias mati lampu. "Yah.
... terpaksa harus nyalakan lilin."

Perenungan di kost ini mungkin bukan barang baru, dan sudah sangat membosankan. Hanya pingin tidur saja supaya bisa melupakan berbagai hal di dunia nyata, walau itu sifatnya hanya sesaat saja. Aku kalau sudah bosan tidur, terpaksa baca semua situs lewat smart phone android pinjaman. "Punya tiga handphone, tapi pinjaman semuanya." Seakan waktu menyatakan kepada diriku mengenai status hidup yang hanya pinjaman pula dari Sang Khalik.

Paling membuat emosi naik, jika terima sms atau telpon dari orang yang aku kenal tapi seakan jadi duri dalam daging saja. Pesannya sehari itu sampai puluhan sms. "Emang gila orang itu, atau memang dia tercipta untuk menjadi orang dengan multi masalah karena sifat phobia manianya itu."

Sifat aku beberapa tahun ini jadi mudah meledak-ledak dan kalau diibaratkan benda berwujud cair, aku sama dengan premium yang cepat terbakar jika disulut api. Sudah saatnya aku harus mengambil langkah, atau keputusan. Apapun itu yang penting langkah kongkrit itu bisa secepatnya. Apa itu ? Jelas semua keputusan ada resikonya, aku tak mau terombang ambing dengan semua ini. Mengingat kebelakang hanya ada ingatan buruk. Menerjang ke depan adalah keharusan, apapun itu. Di pembaringan ini, aku kembali berpikir, kembali di kost gelap aku dengan sejumlah masalah dan satu tekad hidup, tak mau kalah dengan waktu yang membosankan.

Senin, 03 November 2014

Bersama Mimpi



AKU berlari sekuat tenaga, aku meraih tangan halusnya
Senyuman manis menyambut bersama desahan nafasku
Langkah kaki berlahan berhenti dikala tubuhnya mendekat
Tatapan mata sayunya bagai menghantam raga ini...

Memegang tangannya sekuat hati menyebut namanya
Namun mulut ini bagai terkunci tak sanggup berucap
Berusaha menyapa apa daya tangannya terlepas
Makin menjauh bagai tertiup angin melayang dan hilang

Tinggalah sebuah nama tersimpan di hati rapuh aku
Aku ucapkan nama indah itu Theresia... Theresia... Theresia..
Sekejap itu mataku terbuka melihat cahaya lampu peraduan
Aku terjaga dari mimpi... bersama mimpi Theresia tersenyum

Dunia Hukum Panggung Sandiwara



MENJADI pendekar hukum adalah hal yang membanggakan. Apalagi dunia pengacara begitu berwarna, tak hanya hitam dan putih, tetapi berwarna warni bagai pelangi bahkan kadang susah ditebak warnanya.

Sebagai salah satu penegak hukum di bangsa ini, tentu profesi lawyer atau advokat atau pengacara begitu memegang peranan penting untuk hukum menjadi panglima di bangsa ini.

Namun, carut marut politik kita, ekonomi kerakyatan yang dikuasai kaum elite, ikut menggiring para penegak hukum di negeri ini, yakni para hakim, jaksa, polisi dan pengacara harus memilih berada di wilayah abu-abu.

Mengapa demikian ? Percaya atau tidak, negeri ini bukan lagi berdasarkan hukum sebagaimana tercantum dengan tegasnya di UUD 1945. Hukum ibarat satu kata yang pahit rasanya bila dikecap oleh orang kebanyakan di negeri ini. Hukum itu kata teman saya yang sehari-hari menjual jajanan nasi kuning keliling, identik dengan uang pelicin. Dan tak tajam keatas melainkan tajam kebawah. Apa artinya ? Masyarakat kecil sudah apatis dengan para penegak hukum kita.

Teman saya, rupanya sudah pandai memainkan kata-kata dengan menyebut supremasi hukum yang diperlukan bangsa ini. Tapi bagaimana membersihkan sampah-sampah itu dengan sapu yang kotor pula ? Terlihat keningnya mengerut tanda pesimistis.

Ada benarnya juga teman saya yang rakyat kebanyakan kaum kecil dan termarginalisasi oleh sistem elite bangsa ini. Sebab belum lama berprofesi pengacara, saya pribadi sudah diperhadapkan kewilayah abu-abu bahkan  hitam pekat.

Tetapi saya pribadi tidak mau tergerus pula dengan wilayah abu-abu atau hitam itu, melainkan berpikir jernih dan teringat tulisan pakar hukum kita, Almarhum Prof Charles Himawan mengenai hukum sebagai panglima. Menurutnya, ia begitu percaya dengan keampuhan supremasi hukum. Hal ini bisa, jika hukum berjalan di track yang benar. Sehingga dampaknya jelas pada perekonomian dan kehidupan bernegara yang pasti sehat.

Kita kata Himawan harus terus menyuarakan rule of law, meski ibarat berbicara di tengah keriuhan orang banyak. Himawan menyebut, kapan kiranya Indonesia mempunyai badan peradilan yang baik, sehingga apapun keputusannya bisa diterima semua pihak di bangsa ini dengan baik ? Tentu hal itu membutuhkan waktu, tergantung sikap dan mind set bangsa ini.

Kembali lagi kepada teman saya yang penjual nasi kuning keliling, hal mengejutkan diungkapnya bahwa tetanganya lagi ketiban sial, saat anaknya kedapatan membawa narkoba dan sedang diproses hukum harus merogoh uang tabungan selama puluhan tahun untuk membayar oknum polisi, oknum jaksa dan oknum hakim untuk mengatur hukuman yang ringan dengan perantara pengacara.....hemmm hukum oh hukum. (Deandra)